Google+ Badge

Kamis, 22 November 2012

cerita tentang sahabat


Dua orang sahabat, aji dan hasan. Mereka berdua berteman sejak kecil, selalu bermain, dan belajar bersama, tetapn saat beranjak dewasa kedua sahabat ini mempunyai pemikiran yang berbeda.

"Sudah tentu uang adalah yang terpenting di dunia." Kata Aji dengan tegas.
"Tidak Aji,Cinta kasihlah yang paling penting, dan berharga".
"Bodoh kamu San, kalau ada uang tentu Cinta dan kasih kita dapatkan". Kata Aji lagi tidak mau kalah.
"Tapi Ji, uang tidak dapat membeli Cinta ataupun kasih. Kedua hal itu tidak bisa dibeli. “
"Ah sudahlah aku capek berdebat denganmu, 5 tahun lagi akan kubuktikan kalau uang dapat membeli semuanya termasuk cinta .

Keduanyapun berpisah, dan masing – masing membuka usaha sendiri. Aji memutuskan membuka sebuah usaha peminjaman uang dengan bunga, sedang Hasan melihat pendidikan di kotanya sangat kurang, terutama anak – anak yang tidak mampu sangat susah untuk mendapatkan pendidikan, maka Hasan menggunakan seluruh hartanya untuk membuka sekolah murah, bahkan untuk anak – anak yangh tidak mampu, Hasan tidak menarik bayaran.

Usaha Aji berkembang pesat, ia meminjamkan uangnya dan menarik bunga tinggi dari pinjaman yang diberikan. Aji pintar bermulut manis menarik korbannya yang mau meminjam uang
“Dengan pinjaman uang ini Pak, tentu usaha Bapak akan bertambah lancer, apalagi bunga yang kuberikan ini kecil. Dan kalau usaha Bapak besar tentu bunga sekecil ini tidaklah susah untuk dibayar“ Goda Aji kepada calon pelanggannya.

“Kan pesta kimpoi anak Bapak cumin sekali , perlu dirayakan seistimewa mungkin, tapi tidak perlu kawatir dengan biayanya, kami juga menyediakan fasilitas bunga ringan untuk keperluan – keperluan seperti itu, dan bayangkan Pak anak Bapak pasti senang sekali dengan hadiah pesta yang meriah . “ Mulut manis.

Begitulah cara Aji mendapatkan pelanggannya. Orang – orang yang meminjam kepada Aji banyak yang tidak sadar akan bunga yang harus mereka bayar, karena mereka kebanyakan termakan bujuk rayu Aji, dan tidak membaca surat perjanjian dan selalu masa bodoh dengan besar bunga yang diberikan, dan akhirnya saat waktu jatuh tempo, kebanyakan orang yang meminjam uang pada Aji tidak dapat melunasi pinjamannya, dan akibatnya harta jaminan mereka disita oleh Aji. Aji pun semakin kaya dan terus mengembangkan usahanyaDi lain pihak Hasan membuka sekolah murah, keadaannya jauh dari keadaan Aji. Sekolah yang dibuka Hasan memang mempunyai banyak murid, tapi kebanyakan adalah anak – anak tidak mampu, sehingga sekolah Hasan kekurangan pemasukan. Untung Hasan mendapat bantuan dari beberapa rekan guru yang bersedia mengajar dengan gaji sangat rendah, semua itu hanya karena guru – guru itu cinta terhadap kota mereka.

5 tahun berlalu, usaha Aji sudah berkembang demikian pesat, bahkan ia sudah menjadi seorang tuan tanah dikota kelahirannya. Semua kekayaan itu membuat dia disegani juga dibenci olah masyarakat. Sifatnya yang egois, dan tidak jujur membuat banyak orang membencinya, tapi ia tidak peduli. Dia ingat kalau dalam 5 tahun ia akan menunjukan pada temannya Hasan bahwa uang dapat membeli segalanya.

“ Aku sudah kaya, semua bisa aku beli, rumah, tanah, bahkan yang namanya cinta aku juga beli hahaha. “ Aji tertawa didalam hatinya.

“ Istriku cantik, dan anggun semua itu bisa kudapat karena aku kaya, coba kalau aku tidak kaya, sudah tentu dia tidak akan mau sama aku, jelas semua yang Hasan katakana itu omong kosong, katanya cinta tidak bisa dibeli, akan kuperlihatkan istriku yang cantik yang cintanya aku beli menggunakan uang , dan semua kemewahan yang membuatnya tergila –g ila padaku. “ Aji berniat memamerkan semua kekayaan dan keberhasilannya ke Hasan.

5 tahun tidak berhubungan membuat Aji kehilangan kontak, tapi tidak sulit dia mendapatkan info keberadaan Hasan yang masih satu kota dengannya, dia mempunyai banyak pegawai dan semua info mudah ia dapatkan, maka segera dia menuju ke rumah Hasan bersama istrinya yang cantik. Tidak susah menemukan tempat tinggal Hasan, ia tinggal di sekolah yang didirikannya. Aji segera memakirkan mobilnya, istrinya enggan ikutan karena tempat itu jalannya kotor
“ Gak mau ah, nanti bajuku kotor, inikan baju mahal. “ Tolak istrinya.

“ Halah kalau kotor tinggal beli yang baru, ayo ikut , aku mau kasih liat si Hasan kalau istriku itu yang paling cantik, ayolah nanti aku belikan yang lebih mahal. “ Rayu AjiMendengar akan dibelikan baju yang lebih mahal sang istri pun langsung setuju. Hasan yang sedang menyapu diluar langsung meyadari kedatangan Aji, ia masih mengenali Aji walau sudah 5 tahun tidak bertemu, dan segera berlari menemui Aji.

“Halo kawan lama, bagaimana kabarmu?? “ Sambut Hasan gembira.
“Baik – baik saja San, gimana dengan kamu? Aku lihat hidupmu agak susah“ Sindir AjiHasan tertawa kecil.
“Ya beginilah kawan, sekolahku memang tidak bertujuan mencari keuntungan, yang penting para murid rajin, dan lulus saya sudah puas. “ Kata Hasan.
“Oh ya sebentar aku panggilkan istriku, Marniiiii!!! Sini ada teman lamaku dating“ Teriak Hasan.
“Hampir lupa ayo masuk Ji, aku tinggal didalam“ Ajak Hasan, kemudian Hasan melirik ke Maria istri Aji.
“Oh dia istriku San, hamper lupa, kenalkan namanya Maria“ Aji memperkenalkan istrinya, kemudian mereka masuk ke rumah Hasan, disana istri Hasan Marni sudah menanti, kemudian Hasan memperkenalkan kepada Aji , dan Maria.

“Hmm istrinya biasa aja, hah mana bisa menandingin istriku yang cantik ini“ Pikir Aji, bibirnya tersenyum kecil penuh rasa kemenangan.
“Kamu lihat kan San, aku punya uang dan dari uang aku mendapatkan semuanya, istri yang cantik , rumah besar, kemewahan semua aku dapat. Sekarang kamu mengakuikan kalau uang itu yang paling penting.“
“Memang semua yang kamu katakana itu bisa didapat karena uang yang kamu punya, tapi kamu tidak akan mebeli cinta, kasih dengan semua uang itu Aji, dan uang juga tidak bisa member kebahagiaan. Aku mungkin tidak punya uang, tapi aku mendapatkan cinta dari istriku, kasih dari para rekan – rekanku, juga semua muridku, semua itu membuat aku bahagia walau hidup sederhana seperti ini. “ Kata Aji sambill melihat istrinya, ia meminta istrinya untuk mengajak Maria berkeliling, karena ia tahu kalau dia dan Aji akan berbicara serius, Marnipun mengerti keinginan suaminya, dan ia mengajak Maria untuk melihat – lihat sekolah. Awalnya Maria menolak tapi Aji menyuruh, Mariapun mengikuti Marni.

“Bah semua yang kamu katakana itu teori San, tapi kalo prakteknya , nihh disini liat aku. “ Kata Aji menunjuk dirinya.
“Apa kamu bahagia? “ Tanya Hasan singkat.
Aji jadi kagok saat ditanya begitu, semestinya dengan semua yang dia punya ia pasti merasa bahagia paling gak dia merasa begitu tapi kenyataannya tidak demikian, walau begitu Aji tidak mau mengakuinya.
“Ten..tentu saja aku bahagia, hidupku senang, istriku cantik semua bisa aku dapatkan kurang apalagi?.“
“Aji aku mendengar banyak sekali kabar buruk tentangmu, tentang kamu yang curang, kejam, dan masih banyak lagi, apa benar kamu melakukan segalanya untuk uang?”.
“Halah mereka berkata begitu karena iri saja, siapa suruh mereka ceroboh tidak membaca surat utangnya, kan bukan salahku, dan kalau mereka gagal membayar wajar donk kalau aku menyita harta mereka.“ Aji membela diri.
“Ah sudahlah dengan semua yang aku punya , semua yang bisa aku dapatkan dengan uang kamu masih juga tidak mengakui kalau uanglah yang terpenting. “ Hardik Aji, Hasan hanya diam, tidak lama.

Aji juga pamit, Hasanpun tidak menahannya.
Itulah terakhir kali kedua sahabat itu bertemu, setelah itu Aji masih tetap seperti dulu setia dengan pendapatnya kalau uang itu segalanya, ia menyimpang semua uangnya didalam rumah, tapi naas bagi Aji rumahnya dibobol maling yang ternyata bekerja sama dengan satpam yang bekerja dengannya, walau pencurian itu gagal karena kepergok Aji , tapi sejak itu Aji menjadi waspada, ia tidak mempercayai siapapun, setiap hari ia kawatir apakah uangnya aman? Apakah pegawainya setia? Mungkin selama ini dia telah ditipu sama pegawainya? Semua kekawatiran menimpa Aji, istrinya Maria walaupun melihat Aji yang selalu kawatir juga tidak berusaha menenangkan, asik menikmati semua kemewahan yang diberikan Aji. Setiap hari, setiap saat perasaan takut, dan kawatir menyerang Aji dan akhirnya ia jatuh sakit parah, penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dokter terbaikpun menyerah.

“Tolonglah dok, berapapun akan aku bayar, asal dokter dapat menyembuhkan aku.“ Aji memohon pada dokternya, tapi dokter itu menyerah, banyak dokter yang dijumpai Aji, tapi semua berkata sama.
“ Penyakit ini dari pikiran tuan, tidak ada yang bisa saya lakukan.“Malang nasib Aji, sampai akhir ia tidak menyadari kalau semua uang yang dimilikinya malah membuatnya sakit dan menderita, pikirannya menjadi tidak tenang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar